pengunjung

Senin, 02 Juni 2025

 

KECERDASAN ARTIFISIAL

A. Definisi Kecerdasan Artifisial

Definisi Kecerdasan Artifisial Istilah ‘Kecerdasan Artifisial’ (KA) pertama kali digunakan dalam lokakarya di Dartmouth College pada tahun 1956 untuk mendeskripsikan "ilmu dan rekayasa dalam menciptakan mesin cerdas, terutama program komputer yang cerdas" (McCarthy et al., 2006). Stuart Russell dan Peter Norvig (2021) mendefinisikan KA sebagai sebuah sistem yang dapat berpikir seperti manusia, bertindak seperti manusia, atau mengambil keputusan yang rasional berdasarkan data yang dikumpulkan. Sementara itu, KBBI Daring Versi VI mendefinisikannya sebagai "program komputer yang meniru kecerdasan manusia, seperti mengambil keputusan, menyediakan dasar penalaran, dan karakteristik manusia lainnya” (n.d.). Seiring waktu, definisi KA terus berkembang dan seringkali hal ini bersinggungan dengan pertanyaan filosofis tentang apa yang dimaksud dengan ‘kecerdasan’ dan apakah mesin benar-benar bisa dianggap ‘cerdas’. Namun, secara praktis, KA merujuk pada sistem yang memungkinkan komputer belajar dari data, mengenal pola, serta membuat prediksi atau keputusan secara mandiri. Misalnya, dalam aplikasi sehari-hari, algoritma KA pada platform media sosial dapat menganalisis kebiasaan pengguna dan merekomendasikan konten yang relevan. Semakin sering seseorang menonton video bertema tertentu, semakin akurat sistem dalam menyarankan video serupa. Hal ini menunjukkan bagaimana KA mampu mengadaptasi diri berdasarkan pengalaman, meskipun cara kerja dan kecerdasannya berbeda dari manusia. Secara sederhana, KA adalah teknologi yang membantu komputer belajar dari pengalaman dan melakukan tugas tanpa selalu perlu diperintah oleh manusia secara langsung.

B Karakteristik Kecerdasan Artifisial

Kecerdasan Artifisial (KA) memiliki beberapa karakteristik utama yang membedakannya dari teknologi biasa. Berikut ini adalah beberapa karakteristik utama KA yang bisa dilihat di dalam kehidupan sehari-hari:

1. KA belajar dari data (Machine Learning) KA tidak seperti mesin biasa yang hanya bisa melakukan satu tugas tetap karena KA bisa belajar dari data yang diberikan kepadanya (Russell & Norvig, 2021). Semakin banyak data yang ia pelajari, semakin baik kemampuannya.

Contoh:

● YouTube merekomendasikan video yang disukai berdasarkan riwayat tontonan.

● Google Translate semakin akurat dalam menerjemahkan karena terus belajar dari teks yang

   digunakan oleh banyak orang di seluruh dunia.

2. KA mampu beradaptasi dan meningkatkan performanya KA bisa berubah dan menyesuaikan

diri berdasarkan pengalaman. Jika KA awalnya sering melakukan kesalahan, ia bisa memperbaiki dirinya sendiri dengan belajar dari kesalahan tersebut (Goodfellow et al., 2016).

Contoh:

● Aplikasi peta seperti Google Maps atau Waze awalnya mungkin salah memperkirakan waktu tempuh, tetapi setelah lebih banyak orang menggunakan jalan yang sama, ia bisa memperbaiki prediksinya dan memberikan rute terbaik.

● Asisten virtual seperti Siri atau Google Assistant semakin memahami suara dan aksen pengguna seiring waktu karena terus belajar dari interaksi sebelumnya.

3. KA bekerja berdasarkan algoritma dan model prediktif KA bekerja dengan aturan dan langkah-

langkah matematis yang disebut algoritma. Dengan algoritma ini, KA bisa memprediksi sesuatu sebelum terjadi berdasarkan pola data yang telah dipelajari (Domingos, 2015).

Contoh:

● Aplikasi cuaca bisa memprediksi hujan berdasarkan pola suhu, kelembaban, dan data

   sebelumnya.

● Aplikasi belanja daring seperti Shopee, Tokopedia, atau Lazada bisa merekomendasikan produk

   yang pelanggan suka berdasarkan apa yang sering dicari atau dibeli.